Menyelamatkan Manusia Digital
Published on November 11, 2011 by Pungkit Wijaya · 0 KomentarBerangkat dari asumsi tersebut kini seiring perkembangannya, internet muncul sebagai generasi kedua dari cyberspace tersebut, yang sering diidentifikasikan menjadi mesin serba cepat dan pencetak hasrat. Tentu mengharuskan setiap manusia yang hidup di zaman ini untuk mengakses, jikalau tidak akan ketinggalan zaman. Tutur beberapa pakar media telekomunikasi.
Oleh karenanya kebutuhan tersebut seiring perkembangan dunia global yang mengharuskan kita untuk memiliki itu, selebihnya dapat menggunakannya sebagai kebutuhan lalu dapat menimbulkan sesuatu yang bermanfaat atau ada nilai guna dalam kehidupan.
Lalu kedatangan cyberspase apakah berguna bagi kehidupan? Ya, tentu saja, sangat berguna bagi seluruh penggunannya. Dalam cyberspase atau dunia menjadi dilipat, apalagi sekarang ditambah dengan kemunculan internet dari buku-buku hingga data penduduk menjadi serba digital, seakan semua dari kondisi budaya, sosial, politik, ekonomi menjadi terbuka lebar untuk ruang bergerak, melebihi dari dunia nyata, sebab dari percepatan tersebut dalam perihal apa pun akan serba elektronik atau sudah beranjak ke dunia oneline; pembertiaan, dukungan suara, serta bisnin pun menjadi digital.
Sementara itu, kata cyberspase tersebut pertama kali digunakan William Gibson dalam novel fantasi ilmiahnya Neuromancer (1984), dari novel tersebut Gibson menggambarkan sang hero menghubungkan komputer dengan otaknya dan awalan cyber tersebut dikaitkan dengan robot komputer.
Dengan demikian seiring perkembangan tekhnologi informasi menuju skenario yang dihadirkan Gibson. Maka kata cyberspace sering digunakan lalu menghasilkan definisi dan makna yang beragam. Di sisi lain juga di cerita Doctor Who yang sering disiarkan di BBC Amerika, pada tahun 1960 dalam acara tersebut mereka sering mengutarakan kata cyberman.
Uniknya seiring perkembangannya, beragam istilah pun kini bermunculan, sehingga memunculkan sesuatu yang baru, semisal cybernet. Orang-orang dipastikan akan tergolong dalam istilah tersebut, karena tidak lepas dari kebutuhan akan akses internet tersebut. Apalagi kini sudah menjamah dunia gadgetis yang memang semua orang akan bias menggunakannya kapan dan di mana pun.
Dari istilah cyberman dan cybernet tersebut kita yang hari ini sedang menggunakan perangkat internet sepertinya tak mampu lepas dari dunia itu, dunia digital yang menyebabkan kita seperti “kecanduan”, tubuh, perasaan, pikiran, seakan dikondisikan untuk mengakses, tanpa digital kita seakan gatal. Ya begitulah kilahnya orang-orang memberi alasan, mengapa?dalam kondisi apa pun, kita seakan ingin mengutarakan sesuatu dalam beranda facebook, atau mengikuti twiter seseorang, atau bisa bertegur sapa di yahoo massanger, di mana saja dan kapan saja.
Pada sisi lain media digital tersebut merupakan media saluran yang mengirimkan informasi hanya dalam kode digital (bit 1 dan 0). Media digital akan semakin berkembang dengan adanya dua faktor pendorong, yaitu pertambahan pengguna internet dan semakin meningkatnya aktivitas online.
Pertumbuhan media digital mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan, baik dari sisi pengguna (society) maupun platform tradisional. Media digital dapat dijadikan sebagai media untuk bisnis dan melalui perkembangan internet dapat dijadikan sebagai opportunity untuk memulai berbisnis mau pun dilirik sebagai target pasar. Sementara itu digunakan sebagai media organisasi non-profit. Kiat-kiat dalam membangun ide bisnis dari pertumbuhan media digital.
Pada titik itulah perkembangan digitalisasi harus disikapi dengan serius, dengan menimbang bahwa dunia maya sudah menjadi budaya, atau bisa saja mendarah daging. Dengan pengawasan dan kehati-hatian kita akan selalu menjadi manusia yang tak selalu awam untuk selalu mengingatkan, persoalannya sederhana, dari ruang tersebut beberapa aspek harus menjadi nilai prioritas.
Pungkit Wijaya, Eksponen Komunitas Sasaka dan kontributor www.jejaringku.com
Sumber @Jejaring Pikiran rakyat 30 Oktober 2011








0 komentar:
Posting Komentar